Puisi sebagai
bagian dari sastra juga mengalami perkembangan, dari segi bentuk dan nafasnya.
Dalam zaman sastra lama Indonesia kita mengenal bentuk-bentuk seperti mantra,
bidal,pantun, syair yang kemudian muncul bentuk-bentuk puisi baru pada tahun
1930-an misalnya saja sonata, kwatren, terzina, stanza, dan
sebagainya. Pada tahun 1045 an dengan khairir anwar sebagai penyair garda depan
saat itu memproklamasikan bentuk puisi yang lebih baru yang sering kita kenal
dengan bentuk puisi bebas.
Kontemporer
artinya kekinian atau modern, tidak terikat oleh aturan – aturan zaman dulu dan
berkembang sesuai zaman sekarang (modern).Jadi, puisi kontemporer dapat
diartikan sebagai puisi yang bebas dari kungkungan makna leksikal, sehingga
deret kata atau kalimatnya sering tidak bermakna leksikal (makna kamus). Bahkan
kadang – kadang kata – kata yang digunakan tidak ada didalam kamus ataupun
ujaran.
Lebih jauh boleh
dikatakan bahwa puisi kontemporer seringkali memakai kata-kata yang kurang
memperhatikan santun bahasa,memakai kata-kata makian kasar,ejekan,dan
lain-lain. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambing intuisi,gaya bahasa, irama,
dan sebagainya dianggapnya tidak begitu penting lagi.
Puisi kontemporer dapat dibedakan menjadi :
1.Puisi Mbeling
Puisi ini memakai
ungkapan yang blak-blakan, sederhana, tanpa menghiraukan diksi konvensional
ataupun bunga-bunga bahasa. Biasanya mrngungkapkan kritik pada kehidupan
masyarakat, tetapi dengan cara yang lucu dan tak brusaha terlampau berat.
2. Puisi tipografi
Puisi tipografi
adalah puisi yang lebih mementingkan gambaran visual dari puisi tersebut. Dalam
puisi tipografi seorang penyair berusaha mengekspresikan gejolak hatinya dengan
lebih menonjolkan lukisan bentuk dari puisinya di samping melalui kata-kata
tentunya.
3. Puisi Yang menentang idiom-idiom
Puisi –puisi
semacam ini akan bersifat konvensional. Dengan menentang idiom konvensional
maka puisi tersebut tidak lagi menghiraukan hubungan makna setiap kata, bahkan
sering terjadi menjungkir balikkan hubungan makna tersebut.
4. Puisi yang membalik-balikkan struktur kata
Puisi ini mterliha
mempermainkan suku-suku kata . Sampai-sampai kata-kata itu menjadi tidak
bermakna .Tetapi hal itu tidak lantas menghilangkan makna totalitas puisi
tersebut . Bahkan terasa menjadi sangat konkret. Dengan deretan kata yang
dibolak-balikan susunan suku katanya bila diteriakkan keras-keras seperti
teriakan nelayan di zaman bahari dulu . Bunyi-bunyi yang muncul dari kata-kata
tak bermakna itu mengangkat imajinasi kita untuk membayangkan situasi pada masa
bahari dulu, di mana nenek moyang kita sangat akrab dengan lautan.
5. Puisi yang lebih mengutamakan unsure bunyi
Puisi ini
mengingatkan kita pada bentuk puisi mantra pada zaman sastra purba. Puisi
mantar pun amat menonjolkan kekuatan bunyi. Bahkan menurut hemat nenek moyang
kita dulu semakin kuat bunyi dalam mantara semakin tinggi nilai magis yang
terkandung dalam mantra tersebut. Dan ternyata dalam perkembangan sastra
Indonesia moderen,ada kencenderungan kembali pada bentuk mantra. Penyair garda
depan yang memproklamasikan bentuk mantra ini adalan Sutardji dan ibrahim
Sattah.
6. Puisi yang mengkombinasikan bentuk bahasa
Indonesia dengan bahasa asing atau bahasa daerah
Puisi ini
menggunakan berbagai bahasa dalam mengungkapkan aspa yang dimaksudkannya. Tentu
saja hal ini mempersulit pemahaman pembaca yang tidak mengerti dan menguasai
bahasa asing maupun bahasa daerah.
7. Puisi yang banyak menggunakan symbol daripada
kata –kata atau kalimat.
8. Puisi yang lebih menonjolkan unsure garis atau
gambar seperti dalam seni lukis
9. Puisi Konkret
Puisi konkret
benar-benar merupakan penyair yang tidak lagi percaya terhadap eksistensi kata.
Puisi konkret berusaha meninggalkan peranan kata karena kata dianggapnya
terlampau akrab untuk mewadahi penyair. Puisi konkret merupakan puisi yang
diciptakan oleh penyair dengan memakai benda-benda yang konkret ( biasanya
dengan sedikit mungkin kata , bahkan kalau perlu kata itu dihilangkan) sebagai
alat ekspresinya . Misalnya saja puisi Daging Mentah Sutardji Calzoum Bachri,
atau puisi Abdul Hadi WM.
Ciri-cirinya puisi kontemporer:
- bentuknya itu pasti tidak seperti puisi biasa
- pada umumnya bertemakan kritikan
- maknanya sangat sulit ditangkap
- sering sekali mempermainkan kata di dalamnya
Sumber : http://pitarzon.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar